Antisipasi Lonjakan Pasien, PB IDI Minta Pemerintah Ciptakan Alat Penanganan Covid-19

  • Whatsapp

Jakarta, ArahKata – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengungkapkan harus ada antisipasi terhadap lonjakan pasien terduga dan positif Covid-19. Pemerintah diminta berinovasi ciptakan alat penanganan Covid-19.

“Seluruh dokter tetap kita minta melayani, baik puskemas, klinik, rumah sakit, dan tempat praktek dokter. Kami memberikan anjuran di masa pandemik, dokter harus mengikuti standar pelindungan diri dan menghindari praktik yang berlebihan sehingga tidak kelelahan. Kemudian jatuh sakit,” terang Humas PB IDI Halik Malik saat dihubungi, Kamis (2/4/2020).

Halik mengharapkan pemerintah membuka data hasil pelacakan mengenai jumlah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), positif, dan yang tanpa gejala. Dari data proses identifikasi itu bisa dilakukan pemetaan dan masalah yang ada di lapangan. Tentu saja, ini akan berguna untuk keamanan dan keselamatan tenaga medis yang berhadapan langsung dengan pasien.

“Kami bisa membantu memberikan kontribusi pemikiran dan langkah yang bisa diambil. Bisa dilihat risiko, kronologinya, dan penatalaksanaanya seperti apa nantinya.”

Pemerintah, menurutnya, harus segera melibatkan sebanyak mungkin fasilitas kesehatan, meningkatkan kapasitas ruang isolasi, intensive care unit (ICU), dan akses terhadap ventilator. Ini bukan pekerjaan mudah karena memang kebutuhan yang banyak dan dalam waktu singkat harus tersedia. Namun, itu tak bisa lagi ditawarkan karena berfungsi untuk mengurangi angka kematian (fatality rate).

Pemerintah sebenarnya dapat mendorong industri dan pihak lain dalam bidang riset agar menciptakan ventilator dan alat-alat lain yang dibutuhkan dalam pengelolaan kasus kritis ini. “Misalnya, inovasi terkait ventilator yang bisa dipakai bersama oleh beberapa pasien. Ini sudah dikembangkan oleh UI dan ITB. Ada juga inovasi telemedicine atau pelayanan robotic yang dikembangkan Unair bekerja sama dengan pihak ketiga. Alat ini akan meminimalkan kontak antara dokter dan pasien,” pungkasnya. (SR)

Pos terkait