Belajar dari Kesaksian El Asamau, Pasien COVID-19 Pertama di NTT

  • Whatsapp
Sekda Manggarai Timur, Ir. Boni Hasudungan Siregar. Foto: Istimewa.

Manggarai Timur, ArahKata – Sekretaris Daerah ( Sekda ) Kabupaten Manggarai Timur ( Matim ) Ir. Boni Hasudungan Siregar, mengimbau masyarakat agar belajar dari kesaksian Yohanes El Asamau, orang pertama di NTT yang terkonfirmasi positif Corona Virus Disease ( COVID-19 ), tanpa menunjukkan gejala.

“Belajar dari pengalaman El Asamau kita perlu melakukan sosialisai tentang orang Tanpa Gejala ( OTG ). Siapa yang masuk kategori OTG dan bagaimana menyikapinya,” tulis Ir. Boni Hasudungan, seperti dilansir dari Akuratnews.com, Rabu, ( 15/ 04/2020 )

Bacaan Lainnya

Pada akhir pekan lalu, masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT ) dikejutkan dengan kesaksian El Yohanes Asamau, seorang aparatur sipil negara ( ASN ) dari Kabupaten Alor. Melalui akun YouTube miliknya, El secara terbuka dan jujur menerangkan bahwa dirinya dinyatakan positif COVID-19.

Dalam video tersebut, Pria lulusan IPDN Bandung dan meraih gelar Master di Amerika Serikat itu menerangkan bahwa kemungkinan dirinya terjangkit COVID-19 sejak berada di Jakarta pada tanggal 9-11 Maret 2020, ketika mengikuti kelas pertemuan untuk melajutkan studi Doktoral di Amerika Serikat.

El Asamau menjelaskan riwayat perjalanan sepulang dari Jakarta, Dia sempatkan diri singgah di Denpasar untuk menemui beberapa keluarganya. El, tiba di Kupang pada tanggal 22 Maret 2020.

Sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui kementerian kesehatan bahwa setiap orang yang memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah, wajib melaksanakan karantina mandiri di rumah. El Asamau pun menjalankan karantina mandiri sesuai dengan ketentuan tersebut.

Pada tanggal 26 Maret 2020, El Asamau mendengar kabar bahwa salah satu teman yang mengikuti kelas pertemuan studi doktoral bersamanya di Jakarta, terkonfirmasi positif COVID-19.

Sehari setelah mendengar kabar itu, El akhirnya berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan SWAB, memastikan kondisi kesehatannya.

Hasil pemeriksaan itu, pada tanggal 6 April 2020 El Asamau terkonfirmasi positif COVID-19. El menjadi menjadi orang pertama di NTT yang dinyatakan positif terjangkit virus jenis baru asal Wuhan itu.

El Asamau, Pasien COVID-19 di NTT tanpa Menunjukkan Gejala.

Berdasarkan keterangan video, diunggah oleh El Asamau di akun YouTube miliknya, ASN dari Kabupaten Alor itu diperkirakan terjangkit COVID-19 sejak tanggal 11-13 Maret 2020. Sampai pada tanggal 6 April 2020 dirinya terkonfirmasi positif COVID-19.

Dalam kurun waktu hampir sebulan bahkan hingga ditangani tim medis, El Asamau mengaku tidak mengalami sakit atau gejala tertentu seperti batuk, pilek dan sesak pernapasan. Hanya sedikit meriang.

“Dalam rentang waktu 26 – 28 hari El Asamau tanpa menunjukkan gejala atau termasuk kategori orang tanpa gejala ( OTG ) COVID-19,” jelas Ir. Boni.

Bersyukur bahwa sepulang dari Jakarta, El Asamau bisa patuh dan taat terdapat himbauan pemerintah untuk melakukan karantina mandiri dan berinisiatif untuk melakukan test pengambilan Swab di kerumah sakit ( RS ) terdekat.

“Saat ini kita tidak tau berapa banyak orang seperti El dalam status OTG. Dan tidak semua orang mau bersikap seperti El. Belajar dari pengalaman El Asamau kita perlu melakukan sosialisai tentang OTG, siapa yang masuk kategori OTG dan bagaimana menyikapinya,” jelas Ir. Boni Hasudungan.

Sebagai langkah antisipasi kasus positif COVID-19 dengan tanpa menunjukkan gejala, seperti yang dilamai oleh salah satu ASN asal kabupaten Alor itu, “Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menyikapinya orang tanpa gejala ( OTG ) dengan melakukan karantina warga tersebut di Shelter ( tempat penampungan ) Pemda,” jelas Sekda Matim.

Sesuai Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease ( COVID-19 ), revisi ke 4 dari Kemenkes, menjelaskan definisi orang tanpa gejala ( OTG ) adalah seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi COVID-19, “Orang tersebut telah KONTAK ERAT dengan kasus konfirmasi COVID-19, ” jelas Ir Boni Hasudungan Siregar.

Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, revisi ke 4 dari Kemenkes, yang dimaksud dengan “Kontak Erat” adalah;

“Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus tanpa menggunakan APD sesuai standar,” jelas Ir. Boni Hasudungan.

“Orang yang berada dalam suatu ruangan yang sama dengan kasus (termasuk tempat kerja, kelas, rumah, acara besar) dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala,” tambahnya.

“Orang yang bepergian bersama (radius 1 meter) dengan segala jenis alat angkut/kendaraan dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala,” paparnya.

Untuk itu, Ir. Boni Hasudungan, mengajak semua pihak agar bergotong royong ambil bagian dalam upaya melawan COVID-19 di wilayah Kabupaten Manggarai Timur.

“Mari kita sama sama berperan aktif mengambil bagian dalam upaya pencegahan dan penyebaran COVID-19 di tempat kita masing masing. Untuk Manggarai Timur Sehat, Untuk NTT Sehat dan Untuk Indonesia Sehat,” paparnya. (Marto)

Pos terkait