Dukungan Mengalir Bagi Suu Kyi Saat Hadapi Tuduhan Genosida

  • Whatsapp

Jakarta, ArahKata – Kerumunan orang berkumpul selama tiga malam terakhir di sebuah taman kecil di pusat Kota Yangon, Ibu Kota Myanmar. Mereka menantikan kabar dari sidang atas tuduhan genosida yang dihadiri Aung San Suu Kyi di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda.

Pengemudi truk, pesepeda, staf pemerintah, biarawan dan biarawati, berkerumun di sekitar layar besar di luar balai kota untuk menyaksikan penuturan pengacara tentang kisah mengerikan pengungsi muslim Rohingya yang selamat dari operasi militer 2017.

Operasi militer tersebut memicu eksodus lebih dari 700.000 warga muslim Rohingya ke Bangladesh. Tim hukum Myanmar berpendapat bahwa operasi tersebut tidak diniatkan untuk genosida.

Sejumlah orang yang diwawancarai Reuters menyuarakan dukungan tidak tergoyahkan bagi Suu Kyi, yang memimpin langsung tim pengacara dalam persidangan ICJ untuk membela pemerintah dan militer Myanmar.

“Saya datang ke sini setiap hari untuk menyaksikan persidangan,” kata U Chaw, seorang staf pemerintah berusia 62 tahun.

Tuduhan genosida terhadap Myanmar dilayangkan oleh Gambia. Di pengadilan yang berlangsung pada 10-12 Desember, tim Gambia kadang memberikan kesaksian dalam bentuk grafik.

Pada Selasa, tim hukum Gambia menguraikan kesaksian tentang dugaan pelanggaran oleh tentara, termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran ratusan desa. Penyelidik PBB memperkirakan 10.000 orang dibunuh.

Lalu pada Kamis (13/12), mereka memajang gambar-gambar yang menunjukkan 10 jasad warga Rohingya yang dibunuh di Desa Inn Din.

Ketika foto-foto tersebut muncul, U Chaw menuturkan bahwa dia belum pernah melihatnya. Dia meyakini bahwa media asing yang didanai oleh kelompok-kelompok Islam menyebarkan informasi palsu.

“Saya sangat senang Daw Suu pergi ke sana (ICJ) dan mengambil kesempatan untuk mengatakan kebenaran kepada dunia,” ujar U Chaw.

Keputusan mengejutkan Suu Kyi, yang dianugerahi Nobel Perdamaian, untuk menghadiri persidangan telah memberi pukulan lebih lanjut terhadap reputasi internasionalnya yang sudah ternoda.

Suu Kyi telah lama dikenal sebagai pejuang HAM dan demokrasi. Dia sempat menjadi tahanan politik selama 15 tahun atas sikapnya menentang junta militer yang saat itu berkuasa.

Belakangan, sikapny, terhadap isu Rohingya membuatnya kehilangan banyak penghargaan, dikritik keras, hingga muncul seruan agar Nobel Perdamaian yang diterimanya dicabut. Namun ternyata, di negeri sendiri, nama Suu Kyi tetap harum.

Ketika sidang bergulir di Den Haag, aksi dukungan terhadap Suu Kyi digelar di Myanmar. Massa meneriakkan, “Stand with Suu Kyi”.

Saat berbicara di persidangan pada Rabu (11/12), Suu Kyi mengatakan ICJ tidak memiliki yurisdiksi. Dia menerangkan, bahkan jika ada pelanggaran hukum humaniter selama apa yang disebutnya “konflik internal”, itu tidak masuk level genosida dan tidak tercakup dalam Konvensi Genosida.

Kamis pagi, halaman depan seluruh surat kabar utama menampilkan pembelaan Suu Kyi. Salah satunya memuat foto Suu Kyi satu halaman penuh dengan kata-kata “Stand with Suu Kyi”.

Myanmar gandeng pengacara kontroversial

Pengacara asal Kanada William Schabas, seorang sarjana internasional tentang genosida, telah dikritik oleh teman dan musuhnya karena pertama-tama meneliti kejahatan terhadap muslim Rohingya, namun sekarang membela negara yang dituduh melakukan kejahatan itu.

Pada 2010, Schabas membantu riset sebuah laporan tentang serangan sistematis terhadap Rohingya, yang menyimpulkan bahwa mereka memenuhi ambang batas internasional kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tiga tahun kemudian, dalam sebuah film dokumenter Al Jazeera bertajuk “The Hidden Genocide”, dia mengatakan, “Menyangkal sejarah mereka, menyangkal legitimasi hak mereka untuk tinggal di tempat mereka berdiam, ini semua adalah peringatan yang berarti bahwa tidak sembrono untuk membayangkan penggunaan kata genosida.”

Minggu ini, Schabas berdiri di samping Suu Kyi di Den Haag dan membantah genosida terjadi selama operasi militer 2017.

“William Schabas pada dasarnya menjual Rohingya untuk mendapat $$$ dari pemerintah Myanmar. Benar-benar jenis perilaku sangat buruk, betapa sangat tidak bermoral dan bermuka dua,” twit Phil Robertson, Wakil Direktur Asia di Human Rights Watch.

Dalam wawancaranya dengan Reuters, Schabas menolak kritik tersebut.

“Saya seorang pengacara internasional. Saya melakukan kasus hukum internasional,” kata dia setelah menjalani sidang selama tiga hari.

“Kedua belah pihak punya hak untuk memiliki perwakilan yang kompeten. Jika orang tidak mengerti itu, itu bukan masalah saya.”

Dalam persidangan, Schabas mencoba untuk mengklarifikasi pernyataannya pada 2013 dalam film dokumenter Al Jazeera.

Dia mengatakan, saat itu dirinya merespons hipotesis, bukan situasi sebenarnya di Myanmar.

“Wartawan itu terus-menerus mencoba membuat saya menggunakan kata genosida … Dan saya juga menolak, karena saya tidak pernah mengatakan bahwa genosida terjadi di Myanmar.”

Pos terkait