Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Penipuan Rumah Syariah

  • Whatsapp

Jakarta, ArahKata – Subdit 2 Harta dan Benda (Harda) Ditreskrimum Polda Metro Jaya kembali mengungkap kasus penipuan dengan modus penjualan rumah syariah.

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono mengatakan, pihaknya telah menangkap empat tersangka dalam sindikat penipuan tersebut, yakni berinisial MA, SW, CB, dan S. Gatot menyebut, total kerugian yang dialami oleh ribuan korban itu mencapai Rp 40 miliar. Polisi pun telah memeriksa sebanyak 63 korban dalam kasus itu.

Gatot melanjutkan, para tersangka menawarkan perumahan harga murah dengan iming-iming perunahan syariah. Harganya murah, tanpa riba, tanpa checking bank sehingga masyarakat tertarik membeli rumah.

“Dari 3680 korban, pihak Kepolisian baru memeriksa 63 korban dengan kerugian 40 miliar rupiah. Masyarakat yang ingin punya rumah di iming-imingi karena pelaku membuat brosur-brosur yang menarik.” kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (16/12/2019).

Keempat tersangka memiliki peran yang berbeda-beda. Tersangka MA berperan sebagai Komisaris PT Wepro Citra Sentosa yang berinisiatif dan merencanakan pembangunan perumahan syariah fiktif tersebut.

Sementara itu, tersangka SW berperan sebagai Direktur Utama PT Wepro Citra Sentosa. Ia bertugas menjalankan perusahan serta bekerja sama dengan pihak lain untuk menjual perumahan fiktif tersebut.

Sedangkan, tersangka CB berperan sebagai karyawan pemasaran yang membuat iklan dan brosur penjualan rumah. Tujuannya untuk meyakinkan para konsumen membeli rumah fiktif yang mereka tawarkan.

Adapun, tersangka S yang merupakan istri dari tersangka MA. Dia berperan sebagai pemegang rekening yang menampung uang dari para korban.

Hingga saat ini pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut. Dari keterangan tersangka mengatakan uangnya digunakan untuk pembayaran gaji membebaskan lahan dan lain sebagainya.

Di tempat yang sama Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Agus Salim di polda Metro Jaya mengatakan, Kementrian Agama sangat prihatin dengan adanya kejadian yang mengatasnamakan agama. Agus meminta masyarakat jangan tergiur dengan adanya syariah-syariah seperti itu.

“Terkait kasus penipuan atau penggelapan dengan sindikat mafia Perumahan syariah. cara-caranya saja sudah tidak syariah.” Kata Agus Salim di Polda Metro Jaya.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Wadirkrimum Polda Metro Jaya, AKBP Dedy Murti menyebut, saat ini pihaknya masih memburu dua tersangka lainnya yang juga terlibat dalam sindikat penipuan itu. Dedy menuturkan, kedua buronan itu berperan sebagai karyawan pemasaran dan juga meyakinkan para konsumen untuk membeli rumah yang mereka tawarkan.

“Sementara ada dua (DPO) itu tidak berhenti, masih kita dalami. Semoga dengan press release-nya kapolda ini bisa menggugah yang lainnya, termasuk korban lainnya yang belum memberikan informasi bermanfaat bagi penyidik dalam pengembangan ini,” tutut Dedy.

Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat akan membeli rumah. Terutama dengan iming-iming harga murah.

Dedy menjelaskan, sebelum masyarakat membeli rumah dapat melakukan pengecekan ada atau tidaknya izin perusahaan pembangunan perumahan ke Kementerian PUPR maupun Kementerian Agama, serta leag formilnya terpenuhi atau tidak.

“Atau mengecek ke bagian perizinan di Pemda setempat pasti itu ada terdaftar dan itu bisa dicek online,” imbuh Dedy.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 137 Jo Pasal 154, Pasal 138 Jo Pasal 45 Jo Pasal 55, Pasal 139 Jo Pasal 156, Pasal 145 Jo Pasal 162 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 01 tahun 2011 tentang Perumahan dan atau Pasal 3,4 dan 5 UU RI Nomor 08 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Dengan ancaman hukuman di atas 20 tahun penjara. (Ayr/SR)

Pos terkait