Unpam wujudkan Generasi Milenial yang Humanis dan Religius dan Cinta Indonesia

  • Whatsapp

Jakarta, ArahKata – Lembaga Kajian Keagamaan Universitas Pamulang (LKK-Unpam) menggelar seminar nasional keagamaan yang bertema “Harmonisasi Keberagamaan dan Kebangsaan Bagi Generasi Milenial” pada Sabtu (14/12/2019) di Gedung Auditorium kampus 2 Universitas Pamulang.

Acara ini dihadiri dari berbagai narasumber yaitu Nasaruddin Umar selaku imam besar masjid Istiqlal dan rektor institut PTIQ, Amany Burhanudin Lubis selaku rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta ketua kopertais Wilayah 1 DKI, dan Sofyan Tsauri sebagai mantan teroris.

Turut dihadiri oleh Imam Syafe’i selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, kepala Yayasan Sasmita Jaya Group Darsono, rektor Unpam Dayat Hidayat, Ketua LKK Sofyan Hadi Musa, para kaprodi, dosen dan 5.000 mahasiswa hadir dari berbagai jurusan, agama, daerah dari sabang sampai merauke.

Sambutan datang dari Imam Syafe’i selaku perwakilan dari kementerian agama, bahwa Unpam menjadi universitas yang religius.

“Unpam mampu membuktikan dan menghadirkan semua mahasiswa dari berbagai daerah dan agama. Begitu beragam di Unpam. InsyaAllah Unpam akan mampu mendirikan fakultas agama Islam dan akan banyak peminatnya,” terang Imam dalam siaran pers, Minggu (15/12/2019).

Rektor Unpam Dayat Hidayat mengungkapkan, Unpam akan mendirikan fakultas keagamaan yang di dalamnya terdapat program studi yang berhubungan dengan keagamaan seperti ekonomi syariah dan lain sebagainya. “Tahun depan bisa langsung dibuka pendaftarannya,” ungkapnya.

Begitu juga sambutan dari ketua Lkk, Sofyan Hadi Musa. Menurutnya, seminar ini akan diadakan setiap tahun yang akan digelar oleh Lkk demi mewujudkan Unpam yang humanis dan religius bagi generasi milenial dan semakin cinta dengan Indonesia.

“Yang hadir bukan saja dari muslin tetapi juga nonmuslim, dari berbagai daerah dari sabang sampai merauke, dari Aceh hingga Papua, semua hadir untuk mensukseskan seminar ini,” jelasnya.

Sementara dari pemateri, Sofyan Tsauri yang pernah menjadi teroris mengatakan, bahwa orang-orang saintis lebih mudah terpapar radikal. “Orang-orang saintis mudah terpapar radikal daripada orang-orang sosial,” ungkapnya.

Menurutnya, jargon kembali kepada Alquran, sunnah, hadis tanpa dipahami dengan baik bisa menyesatkan. Orang tidak bermazhab akan mengatakan kembali kepada quran dan sunnah.

“Adanya pemahaman secara literal dalam menyikapi perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Nah, pentingnya kita duduk bersama untuk memahami agama dengan baik,” jelas Sofyan.

Karenanya kata dia, memahami fiqih dalil dan memahami fiqih realitas keduanya harus beriringan. Teroris tidak memiliki dasar usul fiqh, sehingga memahami dalil dengan realitas selalu berbenturan. Adanya pemahaman literlek dalam memahami perbedaan fikih dalil dan realistis akan berbahaya.

“Hingga menimbulkan generasi sok tahu yang membahayakan Memahami ilmu dan mendalami dari sumber dan guru yang baik supaya berfikir jernih dan realistik tanpa adanya pembenaran yang salah, sehingga antara agama dan negara bisa harmonis dan selaras dengan baik,” katanya.

“Bahwa jihad itu fardu ain adalah pemahaman yang salah, dan mereka yang berpemahaman seperti itu terbebani bahwa jihad adalah hal yang harus dilakukan untuk menegakkan kalimat tauhid, padahal jihad cakupannya luas. Tahanan menjadi teroris awalnya dari intoleran, tahapnya selanjutnya radikal, kemudian ektrimisme dan menjadi teroris,” tambahnya.

Prof Amany juga menjelaskan, generasi muda adalah aset pembangunan nasional dan masa depan untuk negara. Menurutnya, membina mahasiswa adalah aset masa depan. Jangan berfikir ekstrimisme hingga melampui batas umum, memahami agama sesuai kepentingan golongan, caranya tidak dengan membunuhan.

“Sejarah Rosulullah adanya piagam madinah intinya untuk saling menjaga, mensejahterahkan, mencerdaskan, menyatukan dan penuh keadilan walaupun hidup dengsn perbedaan yang ada,” ungkapnya. (SR)

Pos terkait